Ilmuwan Panik! Tak Cuma Cuaca, Lautan Ikut Panas Mendidih

Sebuah foto yang diambil pada 28 Februari 2023 memperlihatkan pakaian, pelampung, dan potongan kayu terdampar di pantai, dua hari setelah perahu migran tenggelam di wilayah Calabria selatan Italia, di Steccato di Cutro, selatan Crotone. - Kapal kayu yang kelebihan muatan pecah dan tenggelam lebih awal pada tanggal 26 Februari 2023 di lautan badai di lepas pantai selatan Italia, dengan mayat, sepatu, dan puing-puing hanyut di sepanjang garis pantai yang panjang. Korban tewas meningkat pada 27 Februari 2023 menjadi 62 orang, kata seorang pejabat penjaga pantai kepada AFP - dan jumlah itu tampaknya akan meningkat. (ALESSANDRO SERRANO/AFP via Getty Images)

Beberapa waktu belakangan ini, cuaca panas ekstrem terjadi di sejumlah wilayah dunia, seperti Indonesia, China, Thailand, Bangladesh, Myanmar, Laos, dan India. Bahkan, Bangladesh sempat menembus suhu di atas 50 derajat celsius.

Namun, ternyata suhu yang mendidih tidak hanya terjadi pada cuaca, tetapi juga lautan global. Beberapa waktu ini, temperatur samudra mendadak meningkat hingga mencapai rekor.

Dilansir dari Metro, sejak 1 April 2023 lalu, temperatur lautan tembus hingga 21,1 derajat Celsius selama enam hari berturut-turut. Angka itu disebut sebagai rekor baru bila dibandingkan dengan catatan suhu pada 2016, yakni 21 derajat Celsius.

“Belum diketahui secara pasti mengapa perubahan bisa begitu cepat terjadi,” kata ahli kelautan di tim penelitian Mercator Ocean International, Karina Von Schuckmann, dikutip Sabtu (29/4/2023).

Sejauh ini, ilmuwan masih meneliti penyebab suhu laut yang mendadak hangat. Kemungkinan besar, fenomena ini berkaitan dengan dimulainya El Nino serta pemanasan global. Jika demikian, suhu lautan berpotensi terus naik dan kembali mengukir rekor dalam waktu dekat.

Laut yang semakin hangat menimbulkan sejumlah kekhawatiran bagi ilmuwan, termasuk pengaruh terhadap suhu global secara keseluruhan. Dikaitkan dengan ramalan El Nino yang kuat selama beberapa bulan ke depan, fenomena ini disebut dapat membuat bumi mendekati peningkatan suhu global sebesar 1,5 derajat Celsius.

Ahli kelautan National National Oceanic and Atmospheric Administration, Gregory C Johnson, mengatakan bahwa pemicu suhu air laut meningkat bukan hanya El Nino. Namun, ada sejumlah gelombang panas laut atau titik pemanasan tak sesuai dengan pola El Nino, seperti di Pasifik utara dekat Alaska dan lepas pantai Spanyol.

“Ini adalah pola yang tidak biasa. Ini adalah peristiwa ekstrem dalam skala global, adalah sinyal yang sangat besar. Saya pikir akan membutuhkan beberapa tingkat upaya untuk memahaminya,” cetus pakar dari Princeton University, Gabe Vecchi.

Sebagai informasi, terakhir kali El Nino menerpa Bumi adalah pada 2016. Kemudian, fenomena El Nino digantikan oleh fenomena cuaca La Nina yang dingin. Meskipun tanpa El Nino, suhu Bumi dinilai akan terus meningkat.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*